![]() |
| Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), saat melakukan kegiatannya. (ist) |
Bima, Topikbidom.com - Kelompok Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melakukan kegiatan Program Pengabdian Masyarakat (PMM) Kelompok 34. Kegiatan yang berlangsung di Desa Runggu Kecamatan Belo Kabupaten Bima ini, adalah Program Pengabdian Masyarakat (PMM) yang merupakan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang berada di bawah naugan Direktorat Penelitian dan Program Pengabdian Masyarakat (DPPM).
Program ini, terdiri dari beberapa jenis. Salah satunya, Program Pengabdian Masyarakat Bhaktimu Negeri. Pada kesempatan ini, dibimbing langsung Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Arina Restian, M.Pd.
Pada kesempatan ini, beliau berpesan kepada seluruh anggota kelompok yang berada dalam bimbingannya agar tetap mematuhi protokul kesehatan yang telah dianjurukan oleh pemerintah agar terhindar dari resiko penularan COVID-19 saat melakukan kegiatan pengabdian masyarakat.
"Oleh-oleh NTB yang ekslusif tentunya Kain tenun sarung nggoli . Ada banyak corak ragam tenun sarung dari NTB. Khususnya di kawasan Bima tepatnya di Desa Runggu. Seperti halnya kain tenun kebanyakan di Indonesia, produksinya sangat trerbatas, bahkan nyaris punah," ujar Arina Restian, M.Pd.
Berangkat dari hal ini lanjut Arina Restian, M.Pd, salah satu tujuan mereka yaitu upaya dalam melestarika budaya Bima yaitu menenun. Ia menyebut, kelompok PMM 34 yang beranggotakan Asfi, Maya, Nada, Syailan dan Desi ini melakukan kegiata pelatihan tenun sarung nggoli khas Bima, sasaran kegiatan mereka yaitu ibu-ibu Desa Runggu tersebut.
"Tujuannya meningkatkan kretifitas menenun guna di jadikan sebagai mata pencharian sebagai penenun selain petani. Selain itu kegiatan ini juga bertujuan untuk salah satu upaya dalam melestarika budaya Bima yaitu menenun," paparnya.
Menurut Arina Restian, M.Pd, hal ini
tentu tidak mudah kerena selain memerlukan ketekunan, peminat tenun atau konsumen pun sedikit. Maka dalam kegiata ini, mereka juga memberikan penyuluhan tentang cara pemasaran yang efektif dan efesien sehingga dapat menarik konsumen atau pembeli.
Arina Restian, M.Pd, kembali menyebut, kegiatan ini dilaksanaan sejak hari Senin (10/8/2020) di Rumah salah satu warga Desa Runggu. Kegiatan ini, dimulai membeli kemasan untuk sarung Nggoli, selanjutnya mereka menentukan hari pelatihan tenun sarun Nggoli dan mengajak ibu-ibu di Desa Runggu untuk mengikuti pelatihan tenun sarun Nggoli pada hari yang sudah di tentukan, ibu-ibu Desa Runggu sangat antusias untuk mengiuti kegiatan tersebut.
Mereka juga, sekaligus memberikan penyuluhan terkait cara pemasaran sarun Nggoli yang produktif dan efesien. Karena kebanyakan para penenun memasarkan sendiri secara manual, yang mana mempengaruhi penghasilannya.
“Kita juga memberikan pandangan tentang tata cara pemasaran yang produktif dan efesien seperti (memberikan kemasan yang bagus, harga yang sesuai dan penjualannya bisa dititipkan di toko-toko) agar hasilnya datang sekaligus, kalau jual sendiri dapat mempengaruhi penghasilan karena proses jualnya yang lama," jelas koordinator kelompok 34, Asfy.
Soal harga sambung Asfy, karena semua dikerjakan dengan cara tradisional dan menggunakan bahan alami, tentu cukup mahal dibandingkan tenun hasil industri tekstil.
"dalam melakukan kegiatan PMM ini, kami tak lupa tetap menerapkan protolkol kesehatan selama manjalani New Normal dan Pandemi meskipun Desa Runggu tercatat tidak ada kasus positif Covid-19," terangnya. (*)
