![]() |
| Inilah kondisi jalan setempat |
DOMPU, TOPIKBIDOM - Proyek pembangunan jalan ekonomi dan lingkungan yang menghubungkan pemukiman warga menuju Sekolah Luar Biasa (SLB) Trisula di Desa Matua, Kecamatan Woja, kini memicu keresahan publik. Infrastruktur yang diharapkan menjadi urat nadi bagi siswa berkebutuhan khusus dan petani lokal tersebut dinilai dikerjakan secara amburadul dan mengabaikan standar kualitas beton yang semestinya.
Berdasarkan standar pembangunan infrastruktur jalan lingkungan di wilayah Kabupaten Dompu, seharusnya pekerjaan pembangunan yang dibiayai melalui anggaran Alokasi Dinas Perkim Kabupaten Dompu (APBD) dengan estimasi pagu anggaran Rp190.000.000 Tahun 2025 mampu memenuhi Target Volume Panjang ±100–150 meter, Lebar 3 meter, dengan ketebalan standar minimal 15 cm. Selain itu, juga dalam pemenuhan mutu beton standar, seharusnya minimal K-175 atau K-225 (Standar kekuatan beton untuk jalan lingkungan/ekonomi).
![]() |
Namun di lapangan menunjukan indikator Kualitas pekerjaan yang Amburadul, bahkan berbanding terbalik dengan standar teknis tersebut. Hal itu terbukti beberapa poin krusial yang ditemukan, antara lain Material tidak sesuai spek, dimana campuran semen dan pasir terlihat tidak proporsional, menyebabkan permukaan beton rapuh, berdebu, dan mudah terkelupas meski baru selesai dikerjakan.
Tidak hanya itu, ditemukan dugaan pengurangan volume pada ketebalan rabat yang tidak merata (di bawah 15 cm), yang sangat berisiko retak saat dilalui kendaraan pengangkut hasil bumi. Permukaan jalan yang tidak rata dan bergelombang sangat menyulitkan kursi roda siswa SLB Trisula, yang seharusnya menjadi prioritas utama kenyamanan akses.
"Akses jalan menuju SLB Trisula Matua menjadi simbol buruknya pengawasan infrastruktur di Kabupaten Dompu. Jalur vital bagi siswa disabilitas dan ekonomi warga ini hancur. Proyek ini bersmber dari Dinas Perkim Kabupaten Dompu tahun 2025," ungkap salah satu perwakilan warga Matua, Kecamatan Woja, Kabupaten Dompu, pada media ini, Jumat (20/02/2026).
Berdasarkan data investigasi mengeni proyek gabungan mengungkap jalur ini dikerjakan secara bertahap, namun menunjukkan indikasi kegagalan konstruksi yang serupa, khususnya kondisi Beton yang baru berumur satu tahun sudah mengalami retak seribu dan hancur di banyak titik. Diduga kuat terjadi pengurangan volume semen dan penggunaan material pasir yang tidak standar. Pengerjaan lanjutan atau tambal sulam di area yang sama dinilai amburadul. Beton tanpak kasar, bergelombang, dan tanpa finishing yang layak, sehingga sangat membahayakan kursi roda siswa SLB Trisula.
"Kondisi ini menunjukan adanya pelanggaran fatal dan indikasi kerugian Negara. Mutu Beton di bawah standar. Campuran beton tidak memenuhi kualifikasi K-175. Dampaknya jalan yang seharusnya bertahan 5-10 tahun sudah hancur dalam hitungan bulan. Aksesibilitas disabilitas terabaikan: Meski berada di jalur pendidikan khusus (SLB Trisula), pelaksana seolah menutup mata terhadap kenyamanan jalan, membiarkan permukaan tajam dan tidak rata," bebernya.
Berangkat dari hal ini, warga mendesak mendesak Inspektorat Kabupaten Dompu dan Bupati Dompu, agar segera melakukan Audit Investigatif terhadap kontrak kerja Dinas Perkim 2025 di lokasi tersebut. Selain itu, meminta pihak pelaksana (TPK Desa dan Kontraktor Perkim) melakukan pembongkaran total dan pengerjaan ulang sesuai spesifikasi teknis dan memproses hukum oknum yang terbukti melakukan praktik sunat anggaran material.
"Ini uang rakyat dari kantong berbeda daerah, tapi hasilnya sama-sama hancur. Kami tidak akan tinggal diam melihat hak anak-anak disabilitas dikhianati oleh proyek asal jadi ini. Kami tidak butuh jalan yang hanya cantik saat difoto, tapi hancur dalam sebulan. Ini uang rakyat, jangan dikelola secara amburadul hanya untuk mencari keuntungan pribadi," tegasnya. RUL
Komentar




