![]() |
Oleh: Didi Muliadin, SH (Pengamat Hukum, Sosial dan Politik NTB)
Ada perang yang tidak membutuhkan senjata. Tidak ada dentuman peluru, tidak ada barisan tentara, tidak pula medan tempur yang dapat ditunjuk dengan jari. Namun dampaknya bisa sama mengerikannya: persaudaraan retak, kepercayaan runtuh, dan masyarakat terbelah. Perang itu berlangsung setiap hari di dalam layar gawai kita.
Sebuah kalimat pendek, potongan video beberapa detik, judul yang provokatif, atau foto tanpa konteks dapat menjalar dari satu akun ke ribuan akun dalam hitungan menit. Yang semula hanya perbedaan pendapat dapat berubah menjadi permusuhan. Yang awalnya kritik dapat menjelma penghinaan. Dan yang sebenarnya membutuhkan dialog justru dipaksa masuk ke dalam pertarungan: siapa kawan dan siapa lawan.
Di sinilah narasi antagonis menemukan panggungnya
Media sosial, yang pada mulanya hadir sebagai ruang untuk menghubungkan manusia, perlahan dapat berubah menjadi arena yang mempertemukan bukan gagasan dengan gagasan, melainkan emosi dengan emosi. Algoritma cenderung memberi perhatian lebih besar kepada sesuatu yang mengundang reaksi. Akibatnya, kemarahan lebih cepat mendapatkan panggung daripada ketenangan, kontroversi lebih mudah mendapatkan perhatian daripada penjelasan, dan tuduhan sering kali lebih cepat dipercaya daripada klarifikasi.
Pertanyaannya kemudian, di mana posisi mahasiswa dan kaum terdidik ketika ruang publik dipenuhi narasi semacam itu? Jawabannya tidak cukup hanya dengan menjadi penonton.
Ketika Perbedaan Dipaksa Menjadi Permusuhan
Narasi antagonis pada dasarnya adalah cara membingkai realitas dengan menciptakan pertentangan tajam antara dua pihak. Dunia dipersempit menjadi "kami" dan "mereka". Yang satu dianggap sepenuhnya benar, sementara yang lain dicap sepenuhnya salah. Tidak ada wilayah abu-abu. Tidak ada kesempatan untuk menjelaskan. Tidak ada ruang untuk mengatakan, "Saya tidak setuju, tetapi saya tetap menghormati Anda."
Dalam narasi seperti ini, kompleksitas persoalan justru menjadi musuh. Masalah sosial, hukum, ekonomi, dan politik yang sesungguhnya memiliki akar panjang dan banyak variabel disederhanakan menjadi satu kambing hitam: tokoh tertentu, kelompok tertentu, institusi tertentu, atau pihak tertentu.
Kita kemudian terbiasa dengan kalimat-kalimat seperti: "Semua ini salah mereka." "Kalau tidak bersama kami, berarti melawan kami." "Jangan percaya pihak itu." Kalimat-kalimat tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun justru di situlah bahayanya. Sebab masyarakat yang terus-menerus dipaksa melihat dunia dalam dua warna akan kehilangan kemampuan untuk melihat kenyataan secara utuh.
Mahasiswa Harus Menjadi Penjaga Kewarasan Publik. Dalam situasi seperti ini, mahasiswa memiliki posisi strategis. Mahasiswa bukan hanya kelompok yang sedang menempuh pendidikan tinggi. Dalam tradisi intelektual, mahasiswa adalah kelompok yang seharusnya memiliki keberanian untuk bertanya, meragukan sesuatu yang dianggap mapan, menguji informasi, dan mencari kebenaran melalui argumentasi.
Karena itu, ketika ruang publik sedang dikuasai emosi, mahasiswa semestinya tidak ikut menambah kebisingan. Mereka justru harus menjadi penjaga kewarasan. Ketika sebagian orang langsung percaya pada sebuah tuduhan, mahasiswa bertanya: apa sumbernya? Ketika sebuah video menjadi viral, mereka bertanya apa konteks lengkapnya?
Ketika sebuah informasi hanya datang dari satu sisi, mereka bertanya di mana sisi yang lain?Dan ketika mayoritas sedang marah, mereka memiliki keberanian untuk berkata: tunggu, mari kita periksa terlebih dahulu.
Sikap semacam itu mungkin tidak populer. Bahkan terkadang seseorang yang memilih berpikir kritis justru dianggap membela pihak tertentu. Namun begitulah harga dari intelektualitas. Kebenaran tidak selalu berada di pihak yang paling ramai.
Verifikasi Sebelum Amplifikasi
Salah satu dosa terbesar dalam ekosistem media sosial adalah menyebarkan sesuatu sebelum memastikan kebenarannya. Kita sering kali bukan lagi sekadar konsumen informasi. Kita telah berubah menjadi distributor informasi. Setiap kali menekan tombol bagikan, repost, atau meneruskan sebuah pesan, sesungguhnya kita ikut mengambil bagian dalam menentukan informasi apa yang hidup di tengah masyarakat. Karena itu, kaum terdidik harus memiliki standar yang lebih tinggi. Jangan bertanya hanya, "Apakah informasi ini sesuai dengan pendapat saya?" Pertanyaan yang lebih penting adalah "Apakah informasi ini benar?"
Dua pertanyaan tersebut berbeda secara fundamental. Informasi yang sesuai dengan keyakinan kita belum tentu benar. Sebaliknya, informasi yang bertentangan dengan pandangan kita belum tentu salah. Di sinilah kemampuan literasi digital dan berpikir kritis menemukan relevansinya.
Mahasiswa dan kaum terdidik harus menjadi verifikator, bukan sekadar pengikut opini. Mereka harus membiasakan diri menelusuri sumber, memeriksa tanggal dan konteks, membandingkan informasi, serta membedakan fakta, interpretasi, opini, dan propaganda.
Sebab satu informasi palsu yang kita sebarkan mungkin hanya membutuhkan satu detik untuk dikirim, tetapi dampak sosialnya bisa membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk diperbaiki. Jangan Biarkan Kritik Berubah Menjadi Kebencian. Demokrasi membutuhkan kritik. Negara membutuhkan kritik. Pemerintah membutuhkan kritik. Institusi membutuhkan kritik. Bahkan setiap manusia membutuhkan kritik untuk memperbaiki dirinya. Namun kritik dan kebencian bukanlah dua hal yang sama.
Kritik menyerang gagasan, kebijakan, keputusan, atau tindakan yang dianggap keliru. Kebencian menyerang martabat manusia. Kritik membuka ruang perbaikan. Kebencian menutup pintu dialog. Karena itu, mahasiswa dan kaum terdidik harus mampu menunjukkan bahwa berbeda pendapat tidak identik dengan bermusuhan.
Kita boleh menolak sebuah kebijakan tanpa membenci orang yang membuatnya. Kita boleh mengkritik seorang pejabat tanpa merendahkan keluarganya. Kita boleh tidak sepakat dengan kelompok tertentu tanpa menganggap seluruh anggotanya sebagai musuh.
Inilah kedewasaan demokrasi yang sesungguhnya
Demokrasi bukan kemampuan untuk membuat semua orang berpikir sama. Demokrasi adalah kemampuan untuk hidup berdampingan meskipun kita tidak selalu berpikir sama. Menolak Politik Kambing Hitam, Narasi antagonis juga memiliki satu senjata yang sangat efektif penyederhanaan. Persoalan yang rumit dijelaskan dengan jawaban yang terlalu mudah. Harga naik? Salah pemerintah. Kemiskinan? Salah kelompok tertentu. Konflik sosial? Salah tokoh tertentu. Kegaduhan politik? Salah kubu tertentu. Padahal realitas sosial hampir tidak pernah sesederhana itu.
Di balik satu persoalan biasanya terdapat rangkaian sebab kebijakan, struktur ekonomi, budaya, sejarah, kepentingan, perilaku individu, bahkan kondisi global. Karena itu, mahasiswa dan kaum terdidik memiliki tugas intelektual untuk membongkar persoalan secara lebih mendalam. Jangan puas dengan jawaban yang paling mudah. Jangan buru-buru mencari siapa yang harus disalahkan. Carilah mengapa persoalan itu terjadi. Pertanyaan "siapa yang salah?" memang penting dalam konteks tertentu. Tetapi pertanyaan "mengapa ini terjadi?" jauh lebih penting jika kita ingin menemukan solusi.
Menjadi Jembatan di Tengah Masyarakat yang Terbelah
Ada kecenderungan yang mengkhawatirkan di media sosial: kita semakin sering berbicara tentang orang lain, tetapi semakin jarang berbicara dengan orang lain. Kita menilai kelompok yang berbeda tanpa pernah mengenalnya. Kita menghakimi seseorang berdasarkan potongan video. Kita membenci gagasan yang bahkan belum kita baca secara utuh. Pada titik inilah mahasiswa dan kaum terdidik harus mengambil peran sebagai jembatan.
Mereka tidak harus menjadi orang yang selalu netral. Netral terhadap ketidakadilan tentu bukan kebajikan. Tetapi keberpihakan terhadap kebenaran harus dibangun melalui argumentasi, bukti, dan penalaran—bukan melalui kebencian.Keberanian intelektual bukanlah keberanian untuk berteriak paling keras.
Keberanian intelektual adalah kemampuan untuk tetap berpikir ketika semua orang sedang terbawa emosi. Diamnya Kaum Terdidik Juga Memiliki Konsekuensi Ada satu persoalan yang sering luput kita sadari. Kebohongan tidak selalu menang karena ia lebih kuat. Kadang-kadang kebohongan menang karena orang-orang yang mengetahui kebenaran memilih diam. Ketika mereka yang memiliki pengetahuan tidak menjelaskan, ruang publik akan diisi oleh mereka yang paling berisik.
Ketika orang-orang yang memahami persoalan tidak memberikan perspektif, masyarakat akan mengambil kesimpulan dari potongan informasi. Dan ketika kaum terdidik memilih menjauh dari percakapan publik karena takut dianggap berpihak, narasi antagonis justru memperoleh ruang yang semakin luas.
Karena itu, kaum terdidik tidak cukup hanya memiliki pengetahuan.bPengetahuan harus memiliki keberanian untuk hadir di ruang publik. Bukan dengan kesombongan intelektual, melainkan dengan bahasa yang dapat dipahami masyarakat. Bukan untuk memenangkan perdebatan, tetapi untuk memperluas pemahaman.
Berpikir Kritis Adalah Bentuk Patriotisme
Patriotisme pada zaman ini tidak selalu harus diterjemahkan dalam bentuk mengangkat senjata atau berdiri di medan perang. Di tengah derasnya arus informasi, berpikir kritis juga merupakan bentuk patriotisme. Menolak menyebarkan fitnah adalah patriotisme. Memeriksa fakta sebelum mempercayai tuduhan adalah patriotisme. Menghormati perbedaan adalah patriotisme. Membela kebenaran meskipun tidak populer adalah patriotisme. Dan menjaga agar perbedaan tidak berubah menjadi permusuhan adalah patriotisme. Bangsa yang besar bukan bangsa yang seluruh rakyatnya memiliki pendapat yang sama. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu mengelola perbedaan tanpa kehilangan persaudaraan.
Karena itu, mahasiswa dan kaum terdidik memiliki tanggung jawab yang jauh lebih besar daripada sekadar memperoleh gelar akademik. Ijazah memberi seseorang legitimasi akademik, tetapi integritas lah yang memberi makna pada pengetahuannya. Jangan biarkan kampus hanya menghasilkan orang-orang yang pandai menjawab soal, tetapi gagap menghadapi persoalan masyarakat.
Jangan biarkan pendidikan hanya melahirkan manusia yang mampu menghafal teori, tetapi mudah dipermainkan propaganda. Dan jangan biarkan media sosial menjadi ruang di mana kecerdasan kalah oleh kemarahan. Pada akhirnya, pertarungan terbesar di media sosial bukanlah antara satu kelompok dengan kelompok lainnya.
Pertarungan sesungguhnya adalah antara akal sehat melawan manipulasi, fakta melawan fitnah, dan persaudaraan melawan kebencian. Mahasiswa dan kaum terdidik harus memilih berdiri di mana. Sebab setiap kali kita membagikan informasi tanpa memeriksanya, kita mungkin sedang menambah satu batu pada tembok perpecahan.
Sebaliknya, setiap kali kita memilih memeriksa fakta, memahami konteks, menghormati perbedaan, dan mengajak orang lain berdialog, kita sedang meletakkan satu batu untuk membangun kembali jembatan persaudaraan. Kita tidak mungkin menghentikan seluruh kebisingan media sosial. Tetapi kita masih bisa menentukan suara seperti apa yang kita tambahkan ke dalamnya. Berpikirlah sebelum berbicara. Periksalah sebelum membagikan. Pahamilah sebelum menghakimi. Dan bersatulah sebelum perbedaan berubah menjadi permusuhan.
Sebab ketika kebencian yang ditanam di layar akhirnya tumbuh menjadi konflik di dunia nyata, penyesalan tidak akan mampu menghapus luka yang telah tercipta. Dan mungkin, sejarah kelak tidak hanya bertanya siapa yang menyebarkan kebencian. Sejarah juga akan bertanya. Ketika kebencian sedang memenuhi ruang publik, di mana orang-orang yang seharusnya menjaga kewarasan bangsa? Yakin Usaha Sampai. (*)
