![]() |
| Kiswanto SH |
DOMPU, TOPIKBIDOM – Proyek pembangunan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Karijawa Tahap II senilai Rp2,3 Miliar kini berada di pusaran kontroversi. Bukan menjadi oase estetik bagi kota, proyek yang dibiayai APBD 2025 ini justru dituding sebagai ladang praktik lancung yang berpotensi merugikan keuangan negara dalam skala besar.
BACA JUGA: Ini Sejumlah Pekerjaan Proyek di Dompu Tahun 2025
Aktivis vokal Kabupaten Dompu, Kiswanto SH, membongkar sejumlah kejanggalan fatal dalam pelaksanaan proyek yang ditangani oleh CV. Duta Cevate. Ia menilai pengerjaan di lapangan jauh panggang dari api jika dibandingkan dengan dokumen Rencana Anggaran Biaya (RAB).
"Ini bukan sekadar kelalaian teknis, tapi diduga kuat ada unsur kesengajaan untuk meraup keuntungan pribadi dengan cara memanipulasi volume dan spesifikasi material. Kami mencium aroma korupsi yang sangat menyengat di proyek RTH ini," tegas Kiswanto dengan nada geram, Selasa (24/02/2026).
Audit Investigatif: Borok Proyek di Balik Megahnya Menara Nggusu Waru
Berdasarkan investigasi mendalam, Kiswanto membedah "borok" pengerjaan yang dianggap tidak profesional dan asal-asalan, mulai dari Sabotase Material Lantai Penggunaan Batu Andesit sebagai pengganti Keramik Unpolished 5 cm pada bangunan Menara Nggusu Waru disebut sebagai penyimpangan serius. Mirisnya, sisi luar bangunan hanya diselesaikan dengan 'semen buta', mengabaikan standar estetika dan ketahanan yang tercantum dalam RAB.
Konstruksi 'Rapuh' & Manipulasi Beton Volume beton untuk meja dan kursi yang seharusnya 5,74 m³ (mutu F'c 15) diduga disunat habis-habisan. Parahnya lagi, kursi hollow black steel yang seharusnya memiliki tumpuan cor yang kokoh, hanya diikat baut seadanya."Ini membahayakan keselamatan warga yang nanti menggunakan fasilitas tersebut," cetusnya.
Skandal Penanaman Tanaman Terjadi disparitas volume yang mencolok pada 10 item tanaman. Kiswanto menuding adanya manipulasi jumlah bibit pohon dan rumput. Kondisi rumput Jepang yang gersang dan tak beraturan disebutnya sebagai simbol "kekacauan arsitektural" di tengah kota.
Pengabaian Alat Berat Utama, Proses pemadatan tanah diduga dilakukan tanpa Vibro Roller dan Dozer sesuai syarat tender. Hal ini menjadi bom waktu bagi penurunan struktur tanah di masa mendatang.
Desakan ke APH: Jangan Jadi Penonton!
Tak main-main, Kiswanto secara resmi meminta aparat penegak hukum, mulai dari Inspektorat, Polres, Kejari Dompu, hingga KPK, untuk segera turun melakukan audit fisik dan keuangan. Ia menegaskan bahwa laporan hukum telah dilayangkan sebagai bentuk pengawalan terhadap uang rakyat.
"Dompu tidak boleh menjadi 'surga' bagi koruptor yang mencari makan dari proyek fisik yang berkualitas rendah. Kami mendesak APH untuk segera melakukan tindakan represif. Jangan biarkan kontraktor nakal ini melenggang bebas sementara fasilitas publik dibangun dengan kualitas sampah," tegasnya.
Sebagai bentuk keseriusan, Kiswanto mengancam akan mengerahkan massa dalam aksi demonstrasi besar-besaran jika dalam waktu dekat tidak ada progres penanganan hukum terkait kasus ini.
Hingga berita ini ditayangkan, pihak CV. Duta Cevate maupun dinas terkait belum memberikan tanggapan resmi. Redaksi terus berupaya melakukan konfirmasi lebih lanjut kepada pihak-pihak berkompeten guna menjamin keberimbangan informasi sesuai kode etik jurnalistik. RUL
Komentar