Dua Putra Perkasa Menatap Babak Baru Industri Pangan, Menguatkan Rantai Pasok hingga Teknologi Perikanan -->

Kategori Berita

.

Iklan Halaman Depan

Dua Putra Perkasa Menatap Babak Baru Industri Pangan, Menguatkan Rantai Pasok hingga Teknologi Perikanan

Kamis, 27 Agustus 2026
Ilustrasi


JAKARTA, TOPIKBIDOM - Di tengah tuntutan industri pangan yang semakin kompleks, ketahanan rantai pasok tidak lagi semata-mata berbicara tentang ketersediaan produk. Ia menyangkut bagaimana bahan pangan diproduksi, disimpan, dijaga mutunya, didistribusikan secara efisien, hingga sampai kepada konsumen dalam kondisi terbaik.


Di ruang itulah PT Dua Putra Perkasa Pratama (DPP) membangun perjalanan bisnisnya. Berdiri sejak 1998, perusahaan ini berkembang dari aktivitas perdagangan produk daging menjadi kelompok usaha dengan cakupan bisnis yang lebih luas. Profil perusahaan mencantumkan sejumlah lini usaha, antara lain perdagangan meat dan seafood, produk Horeka, makanan olahan, cold chain, budidaya udang vannamei serta operasional kapal penangkap ikan.


Perjalanan tersebut memperlihatkan satu arah yang semakin jelas membangun ekosistem usaha pangan yang tidak berhenti pada perdagangan, tetapi bergerak menuju integrasi rantai pasok.

Dari Perdagangan Menuju Ekosistem Pangan Terintegrasi. Pertumbuhan DPP menarik dilihat dari bagaimana perusahaan memperluas titik pijaknya.


Pada sektor rantai dingin, DPP Cold Chain menyebut kapasitas penyimpanan yang dikelolanya mencapai 40.000 posisi pallet atau sekitar 35.000 ton, dengan fasilitas penyimpanan frozen, chiller dan ambient/air-conditioned. Sistem tersebut juga didukung Warehouse Management System (WMS) dan Transport Management System (TMS).


Bagi industri pangan, cold chain bukan sekadar gudang. Ia merupakan bagian penting dari pengendalian mutu. Produk yang sensitif terhadap temperatur membutuhkan penanganan yang konsisten sejak masuk fasilitas penyimpanan hingga proses distribusi. Karena itu, investasi pada infrastruktur rantai dingin menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun industri pangan yang memiliki ketahanan terhadap gangguan pasokan.


DPP juga menyebut pengembangan bisnis pada sektor budidaya udang vannamei dan armada kapal penangkap ikan. Dengan cakupan tersebut, perusahaan menempatkan dirinya pada sejumlah mata rantai yang saling berhubungan dalam industri pangan dan perikanan. Ketika Dunia Industri Bertemu Kampus, Babak baru yang paling menarik perhatian pada 2026 datang dari sektor teknologi, riset dan pengembangan.


Situs resmi DPP mencatat penandatanganan MoU dengan Universitas Diponegoro (UNDIP) untuk pengembangan teknologi, IT dan budidaya pada 21 Juli 2026. Kerja sama dengan perguruan tinggi memberikan dimensi baru bagi perjalanan perusahaan.


Sebelumnya, DPP dan UNDIP juga telah menjalin kerja sama dalam bidang bisnis, riset serta pengabdian masyarakat di sektor perikanan. Kerja sama tersebut diarahkan antara lain untuk mendorong pengembangan teknologi perikanan dan mendukung kesejahteraan masyarakat pesisir.


Jika ditarik ke dalam konteks industri nasional, kolaborasi semacam ini menjadi penting. Dunia usaha memiliki kebutuhan nyata di lapangan, sementara perguruan tinggi memiliki kapasitas akademik, riset dan sumber daya manusia. Pertemuan keduanya dapat menjadi jembatan untuk mengubah pengetahuan menjadi inovasi yang memiliki nilai ekonomi.


Menjaga Mutu di Tengah Skala Bisnis, Ekspansi bisnis pangan pada akhirnya akan kembali kepada satu pertanyaan mendasar: bagaimana kualitas dan keamanan pangan dijaga?


DPP Cold Chain mencatat bahwa perusahaan memperoleh sertifikasi FSSC 22000 Version 6 pada 30 Juni 2025, untuk ruang lingkup yang disebut dalam materi perusahaan sebagai Scope FI dan G. Sertifikasi tersebut menjadi bagian dari sistem pengelolaan keamanan pangan dan mutu yang diterapkan perusahaan.


Dalam industri yang berhubungan langsung dengan bahan pangan, standar semacam ini memiliki arti strategis. Keamanan pangan tidak cukup dibangun melalui slogan, melainkan melalui sistem, prosedur, pengawasan dan konsistensi operasional. Karena itu, penguatan sistem manajemen menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari ekspansi bisnis.


Melihat Pangan sebagai Rantai yang Saling Terhubung. DPP hari ini tidak lagi tepat dilihat hanya sebagai perusahaan perdagangan daging atau seafood.

Dari informasi perusahaan, ekosistem bisnisnya mencakup perdagangan, produk olahan, cold chain, budidaya dan aktivitas penangkapan ikan. Model tersebut menempatkan perusahaan pada posisi yang strategis di tengah perubahan pola industri pangan Indonesia.

Ketersediaan pangan membutuhkan produksi. Produksi membutuhkan bahan baku. Bahan baku membutuhkan penyimpanan dan distribusi.


Dan seluruh proses tersebut membutuhkan teknologi, sumber daya manusia, standar keamanan pangan serta sistem logistik yang mampu bekerja secara konsisten. Di titik itulah integrasi rantai pasok menjadi semakin relevan. Menatap Masa Depan dengan Kolaborasi. Langkah DPP menggandeng UNDIP pada bidang teknologi, IT dan budidaya menjadi sinyal bahwa pengembangan bisnis ke depan tidak hanya mengandalkan ekspansi kapasitas, tetapi juga pengetahuan dan inovasi.


Bagi perusahaan yang telah beroperasi selama lebih dari seperempat abad, tantangan berikutnya bukan sekadar tumbuh lebih besar. Tantangannya adalah bagaimana pertumbuhan tersebut menghasilkan efisiensi, kualitas, keberlanjutan dan manfaat ekonomi yang lebih luas. Industri pangan Indonesia membutuhkan perusahaan yang mampu melihat rantai pasok sebagai satu kesatuan. Dari laut dan tambak, dari fasilitas produksi hingga gudang berpendingin, dari teknologi hingga distribusi.


Di tengah perubahan itu, PT Dua Putra Perkasa Pratama sedang memasuki fase baru, dari pengalaman panjang di perdagangan pangan menuju penguatan ekosistem bisnis yang bertumpu pada integrasi, teknologi, riset dan ketahanan rantai pasok. Dan pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah perusahaan pangan bukan hanya seberapa besar produknya bergerak. Melainkan seberapa kuat ia menjaga kualitas, seberapa tangguh rantai pasoknya, serta seberapa besar nilai yang mampu diciptakannya bagi industri dan masyarakat. TOPIKBIDOM | Advertorial