![]() |
| M. Febrian Pratama |
DOMPU, TOPIKBIDOM – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan pelajar asal Kabupaten Dompu dalam ajang olahraga tingkat provinsi. Namun di balik capaian gemilang tersebut, sorotan tajam justru mengarah pada minimnya perhatian dan dukungan dari Pemerintah Daerah Kabupaten Dompu terhadap atlet berprestasi, termasuk tidak adanya pemberian bonus maupun bentuk apresiasi lainnya.
Di tengah keterbatasan fasilitas dan dukungan yang terbilang minim, M. Febrian Pratama, siswa asal Dompu, sukses mengharumkan nama daerah dengan meraih medali emas pada cabang taekwondo nomor kyorugi pemula junior dalam ajang Pekan Olahraga Pelajar (PORJAR) NTB 2026.
Prestasi yang diraih atlet muda yang akrab disapa Iyan ini menjadi ironi. Di satu sisi, Dompu kembali membuktikan diri sebagai lumbung atlet muda berbakat di Nusa Tenggara Barat. Namun di sisi lain, perhatian pemerintah daerah terhadap pembinaan, penghargaan, hingga kesejahteraan atlet dinilai masih jauh dari harapan.
Bertanding di GOR Turide, Iyan tampil penuh percaya diri dan mampu bersaing ketat menghadapi atlet-atlet terbaik dari berbagai kabupaten/kota di NTB. Dengan disiplin tinggi dan mental juara, ia berhasil mengunci kemenangan yang membanggakan.
Sayangnya, keberhasilan tersebut lebih banyak ditopang oleh dukungan keluarga, pelatih, dan lingkungan sekitar, bukan dari intervensi nyata pemerintah daerah. Hingga saat ini, belum terlihat langkah konkret berupa apresiasi resmi, pemberian bonus, maupun penghargaan layak bagi atlet yang telah membawa pulang medali emas untuk daerah.
Tidak adanya bonus atau bentuk penghargaan lainnya dari pemerintah daerah semakin mempertegas lemahnya komitmen dalam mendukung atlet berprestasi. Padahal, di banyak daerah lain, pemberian bonus menjadi bentuk motivasi sekaligus penghargaan atas kerja keras atlet yang telah mengharumkan nama daerah.
Orang tua Iyan, Arif warga Kabupaten Dompu, kembali menegaskan perjuangan anaknya tidaklah mudah dan penuh pengorbanan. “Dari awal sampai bisa ikut kejuaraan, kami berjuang sendiri. Biaya latihan, beli perlengkapan, sampai ongkos berangkat itu kami yang tanggung. Tapi kami tetap dukung karena kami percaya anak kami punya kemampuan,” ungkapnya, pada media ini, Senin (20/4/2026).
Ia juga mengaku kecewa karena hingga saat ini belum ada perhatian nyata dari pemerintah daerah. “Jujur kami sedih, anak kami sudah bawa nama Dompu dan dapat medali emas, tapi belum ada bonus atau penghargaan sama sekali. Seharusnya ada bentuk perhatian, supaya anak-anak lain juga termotivasi,” tambahnya.
Menurutnya, perhatian pemerintah sangat penting untuk keberlanjutan prestasi atlet muda. “Kalau pemerintah hadir, anak-anak pasti lebih semangat. Jangan sampai mereka merasa berjuang sendiri. Kami sebagai orang tua hanya bisa mendukung sebatas kemampuan,” tuturnya.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan serius terkait komitmen Pemerintah Daerah Kabupaten Dompu dalam membangun sektor olahraga, khususnya pada pembinaan atlet usia dini. Minimnya perhatian tidak hanya terlihat dari aspek fasilitas, tetapi juga dari absennya kebijakan penghargaan yang berpihak pada atlet.
Jika dibiarkan, situasi ini dikhawatirkan akan berdampak pada menurunnya semangat dan motivasi atlet muda lainnya. Tanpa dukungan nyata, Dompu berisiko kehilangan potensi besar dari generasi muda yang seharusnya bisa berkembang dan bersaing di tingkat nasional bahkan internasional.
PORJAR NTB 2026 seharusnya menjadi momentum evaluasi bagi pemerintah daerah, bukan sekadar ajang seremonial. Keberhasilan atlet pelajar mestinya diikuti dengan langkah konkret, mulai dari penguatan anggaran pembinaan, penyediaan fasilitas, hingga pemberian bonus dan penghargaan yang layak.
BACA JUGA: Atlet Muda Dompu Bersinar di PORJAR NTB 2026, Bukti Daerah Ini Kaya Talenta Berprestasi
Prestasi sudah dibuktikan. Kini publik menunggu, sejauh mana keseriusan Pemerintah Daerah Kabupaten Dompu dalam menghargai dan membina generasi muda yang telah mengharumkan nama daerahnya sendiri. RUL
Komentar