![]() |
| ilustrasi |
DOMPU, TOPIKBIDOM — Dugaan penelantaran jamaah umrah kembali menjadi sorotan. Seorang jamaah asal Dusun Saneo II, Desa Saneo, Kecamatan Woja, Kabupaten Dompu, Jarwan Nuhu (70), diduga masih berada di Madinah setelah mengalami sakit ketika jamaah lainnya telah kembali ke tanah air.
Keluarga mempertanyakan serius tanggung jawab PT Buana Sentosa Utama (BSU) Travel, selaku penyelenggara perjalanan ibadah umrah yang memberangkatkan Jarwan bersama sekitar 46 jamaah asal Kabupaten Dompu pada 13 Juli 2026.
Jarwan disebut mengikuti paket perjalanan umrah dengan biaya sekitar Rp46 juta per orang. Namun, kondisi berubah ketika ia mengalami sesak napas dan harus mendapatkan perawatan di salah satu rumah sakit di Madinah.
Keluarga menyebut, ketika rombongan jamaah lainnya bertolak kembali ke Indonesia, Jarwan masih menjalani perawatan di rumah sakit.
“Pas rombongan pulang, bapak saya ditinggal di Rumah Sakit Madinah karena sakit tanpa ada pendampingan dari pihak travel,” ujar Harani (33), anggota keluarga Jarwan.
Menurut pihak keluarga, selama menjalani perawatan, pendampingan dari pihak travel dinilai tidak maksimal. Bahkan, keluarga mengaku kesulitan memperoleh informasi mengenai kondisi dan kepastian kepulangan Jarwan.
Kekhawatiran keluarga semakin besar setelah mereka mendatangi pihak PT Buana Sentosa Utama Travel pada Jumat untuk mempertanyakan bentuk tanggung jawab perusahaan terhadap jamaah yang masih sakit di tanah suci.
Namun, keluarga mengaku setelah pertemuan tersebut justru tidak lagi memperoleh kabar yang jelas mengenai keberadaan dan kondisi Jarwan.
“Sejak hari itu kami dari pihak keluarga tidak pernah lagi mendapat kabar orang tua kami. Bahkan dari pihak travel atau PT Buana Sentosa juga tidak pernah menghubungi kami lagi,” ungkap pihak keluarga.
Ahmad, S.Pd alias Son Marhaen, yang mewakili keluarga korban, menegaskan bahwa persoalan ini tidak boleh dianggap sebagai persoalan sepele. Menurutnya, jamaah yang diberangkatkan melalui jasa travel memiliki hak untuk mendapatkan pelayanan dan pendampingan, terlebih ketika mengalami kondisi sakit di luar negeri.
“Kami meminta pertanggungjawaban PT Buana Sentosa Utama Travel. Jangan sampai ketika jamaah sehat dan berangkat, pelayanan diberikan, tetapi ketika jamaah sakit justru keluarga harus menghadapi persoalan sendiri,” tegas Ahmad, pada media ini, Senin (17/8/2026).
Pihak keluarga, kata Ahmad, mendesak travel memberikan penjelasan secara terbuka mengenai kondisi Jarwan, bentuk pendampingan yang telah diberikan, serta langkah konkret untuk memastikan jamaah tersebut dapat kembali ke Dompu dengan aman.
“Kami meminta ayah kami segera dipulangkan ke Dompu. Keluarga ingin ada kepastian, bukan dibiarkan tanpa informasi,” tegasnya.
Keluarga juga meminta PT Buana Sentosa Utama Travel menunjukkan bentuk tanggung jawabnya secara nyata, termasuk memastikan proses koordinasi dengan rumah sakit, pendampingan selama perawatan, hingga kepulangan Jarwan ke Indonesia.
TOPIKBIDOM akan terus mengikuti perkembangan persoalan ini dan memberikan ruang bagi pihak PT Buana Sentosa Utama Travel untuk menyampaikan klarifikasi serta hak jawab atas dugaan penelantaran jamaah tersebut. RUL
Komentar