Dediansyah dan Jalan Baru Pacuan Kuda Dompu, Dari Arena, Prestasi hingga Ekonomi Warga -->

Kategori Berita

.

Iklan Halaman Depan

Dediansyah dan Jalan Baru Pacuan Kuda Dompu, Dari Arena, Prestasi hingga Ekonomi Warga

Jumat, 14 Agustus 2026
Ketua Federasi Nasional Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (FN Pordasi Pacu) Kabupaten Dompu 


DOMPU, TOPIKBIDOM -  Pacuan kuda di Dompu bukan sekadar perkara siapa yang paling cepat melintasi lintasan. Di balik derap kaki kuda dan sorak penonton, ada peternak yang merawat kuda, joki yang mempertaruhkan kemampuan, pelatih dan perawat yang bekerja di balik arena, serta pedagang kecil yang menggantungkan penghasilan pada setiap perhelatan.


Ruang yang selama ini hidup sebagai tradisi itu kini hendak ditata menjadi ekosistem olahraga yang lebih terorganisasi. Arah tersebut menjadi salah satu agenda Dediansyah, SH setelah resmi dipercaya memimpin Federasi Nasional Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (FN Pordasi Pacu) Kabupaten Dompu periode 2026–2030.


Kepengurusan baru itu dikukuhkan Pengurus Provinsi FN Pordasi Pacu Nusa Tenggara Barat melalui Surat Keputusan Nomor 002/PP/PACU/SK/VIII/2026. Keputusan tersebut ditetapkan di Praya pada 14 Agustus 2026.


Bagi Dediansyah, jabatan itu bukan semata mandat organisasi. Ada pekerjaan yang lebih panjang memastikan pacuan kuda tetap memiliki akar budaya, sekaligus mampu berkembang menjadi olahraga prestasi yang memberi dampak ekonomi.


“Bagi masyarakat Dompu, pacuan kuda bukan sekadar olahraga. Ini adalah warisan budaya yang hidup dari generasi ke generasi. Di dalamnya juga terdapat potensi ekonomi yang besar," ujar Ketua Federasi Nasional Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (FN Pordasi Pacu) Kabupaten Dompu periode 2026–2030, Jumat (14/8/2026). 




Dediansyah mengatakan kepengurusan yang dipimpinnya akan segera melakukan konsolidasi dan menyusun program kerja. Pembinaan atlet dan joki menjadi salah satu perhatian, selain pengembangan peternakan, kesehatan kuda, penyelenggaraan kompetisi, hingga penguatan sarana dan prasarana.


Ia melihat pacuan kuda sebagai sebuah mata rantai yang saling berkaitan. Seekor kuda pacu, misalnya, tidak berhenti pada urusan pertandingan. Ada peternak yang membesarkannya, tenaga yang merawat kesehatan dan kebugarannya, pelatih yang menyiapkannya menghadapi perlombaan, serta joki yang mengendalikan laju kuda di lintasan.


Ketika pertandingan digelar, rantai itu bergerak lebih jauh. Transportasi, pedagang dan pelaku usaha mikro, kecil dan menengah di sekitar arena ikut memperoleh ruang ekonomi.


Karena itu, Dediansyah tidak ingin pembangunan Pordasi berhenti pada urusan kompetisi.


“Kami ingin membangun Pordasi Dompu dari hulu sampai hilir. Prestasinya harus tumbuh, budayanya tetap terjaga, peternakan kudanya berkembang dan masyarakat juga harus merasakan manfaat ekonominya," jelasnya. 



Pacuan kuda tradisional memiliki basis budaya yang kuat di Dompu. Namun, ketika olahraga ini diarahkan menuju prestasi yang lebih kompetitif, pembinaan harus mengikuti kebutuhan zaman.



Karena itu, struktur kepengurusan FN Pordasi Pacu Dompu periode 2026–2030 dirancang dengan sejumlah bidang yang mencakup Pembinaan Prestasi, Sports Science, Sarana dan Prasarana, Kesehatan, Peternakan dan Registrasi Kuda, Pacu Prestasi hingga Pacu Tradisional.


Pembagian tersebut menunjukkan pembinaan olahraga berkuda tidak hanya ditempatkan pada lintasan perlombaan. Ada aspek ilmu pengetahuan olahraga, kesehatan, peternakan, administrasi kuda hingga keberlangsungan pacuan tradisional yang harus berjalan bersama.



Bagi Dompu, keberadaan joki bukan hanya soal profesi di arena pacuan. Mereka merupakan bagian dari tradisi yang diwariskan lintas generasi. Karena itu, pembinaan joki muda menjadi salah satu pekerjaan yang menentukan apakah tradisi tersebut dapat terus bertahan sekaligus berkembang menjadi prestasi olahraga.


Di tingkat provinsi, FN Pordasi Pacu NTB memiliki posisi tersendiri dalam tata kelola olahraga. Organisasi tersebut memiliki hak suara dalam pemilihan Ketua Umum KONI Provinsi NTB melalui Musyawarah Olahraga Provinsi atau Musorprov.


Dengan posisi itu, FN Pordasi Pacu NTB tidak hanya berurusan dengan pembinaan olahraga berkuda. Organisasi tersebut juga menjadi bagian dari pemangku kepentingan dalam menentukan arah kepemimpinan olahraga prestasi di NTB.


Posisi tersebut menjadi semakin relevan menjelang agenda kepengurusan KONI NTB berikutnya, di tengah persiapan NTB menghadapi PON XXII 2028 NTB–NTT.


Namun, soal pilihan organisasi dalam Musorprov tetap menjadi kewenangan internal FN Pordasi Pacu NTB, sesuai mekanisme organisasi dan ketentuan yang berlaku.



Dediansyah menyadari target membangun olahraga berkuda tidak dapat dikerjakan oleh Pordasi seorang diri. Pemerintah Kabupaten Dompu, KONI, komunitas berkuda, pemilik kuda, peternak, joki, pelaku UMKM dan masyarakat membutuhkan ruang kerja sama yang berkelanjutan. Di titik inilah agenda Pordasi Dompu periode 2026–2030 menemukan tantangannya.


Prestasi atlet membutuhkan pembinaan. Pembinaan membutuhkan sarana. Kuda pacu membutuhkan peternakan dan layanan kesehatan yang baik. Kompetisi membutuhkan tata kelola yang profesional. Sementara seluruh rangkaian tersebut akan memiliki arti lebih besar apabila manfaatnya dapat dirasakan masyarakat.


Dediansyah berharap seluruh pemangku kepentingan dapat membangun sinergi untuk menjadikan pacuan kuda sebagai kekuatan olahraga sekaligus bagian dari pengembangan ekonomi lokal.



Lebih dari itu, pacuan kuda diharapkan tetap menjadi bagian dari identitas budaya Dompu, memiliki organisasi yang semakin profesional, membuka ruang bagi regenerasi joki dan atlet, serta menggerakkan mata rantai ekonomi masyarakat.


Dengan mandat empat tahun ke depan, Dediansyah dan kepengurusan baru FN Pordasi Pacu Dompu kini menghadapi pekerjaan untuk membuktikan bahwa derap kuda di lintasan dapat membawa agenda yang lebih jauh, prestasi, pelestarian budaya dan kesejahteraan masyarakat. RUL