![]() |
DOMPU, TOPIKBIDOM — Ketika arus modernisasi bergerak semakin cepat, menjaga budaya lokal tidak cukup hanya dengan mengingatnya. Budaya perlu didokumentasikan, ditulis, dikembangkan, dan diperkenalkan kepada generasi berikutnya.
Semangat itulah yang menjadi salah satu perhatian Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah (DPKD) Kabupaten Dompu melalui pelaksanaan Bimbingan Teknis (Bimtek) Kepenulisan Berbasis Konten Budaya Lokal di Gedung Layanan Perpustakaan Daerah Kabupaten Dompu, Rabu (17/7/2026).
Program tersebut menjadi bagian dari upaya DPKD Dompu menjadikan literasi tidak hanya sebagai aktivitas membaca, tetapi juga sebagai ruang untuk mendokumentasikan pengetahuan, tradisi dan identitas masyarakat Dompu dalam bentuk karya tulis.
Di bawah kepemimpinan Kepala DPKD Kabupaten Dompu, Muhammad Abduh, SE, M.Si, pengembangan literasi diarahkan agar memiliki keterkaitan yang kuat dengan potensi dan kekayaan budaya daerah.
Menurut Abduh, kemampuan menulis perlu terus dikembangkan, namun pada saat yang sama para penulis juga perlu didorong untuk mengangkat berbagai aspek budaya lokal ke dalam karya mereka.
“Dalam hal penulisan, budaya lokal itu penting juga diarahkan dalam penulisan,” kata Abduh.
Bagi DPKD Dompu, tulisan tentang budaya lokal memiliki nilai yang jauh lebih luas daripada sekadar sebuah karya. Ketika tradisi, tata krama, pengetahuan masyarakat, nilai keagamaan, maupun berbagai kebiasaan yang diwariskan leluhur dituangkan dalam tulisan, maka pengetahuan tersebut memiliki peluang lebih besar untuk terdokumentasi dan dikenal oleh generasi berikutnya.
Karena itu, Bimtek tersebut diarahkan untuk memberikan pemahaman mengenai bagaimana budaya lokal dapat menjadi sumber inspirasi sekaligus materi dalam menghasilkan karya kepenulisan.
Abduh menilai langkah tersebut penting agar para penulis dan pegiat literasi di Dompu memiliki ruang untuk mengembangkan karya yang tidak hanya menarik secara literer, tetapi juga membawa identitas daerah.
“Dalam setiap karya, khususnya kepenulisan yang dilakukan oleh para pegiat, agar bisa menuangkan juga kepenulisan yang berkaitan dengan budaya lokal kita sehingga nantinya karya yang dipersembahkan bisa dikenal masyarakat luas,” ujarnya.
Menjawab Tantangan Modernisasi
Modernisasi membawa perubahan terhadap pola kehidupan masyarakat. Di tengah perubahan tersebut, sebagian pengetahuan tradisional berpotensi semakin jarang dikenal apabila tidak didokumentasikan dan diwariskan.
Menurut Abduh, masih terdapat pandangan bahwa budaya lokal tidak lagi relevan dengan kehidupan modern. Padahal, nilai-nilai budaya memiliki keterkaitan dengan berbagai aspek kehidupan masyarakat.
Budaya tidak hanya berbicara mengenai kesenian atau tradisi. Di dalamnya terdapat nilai tentang tata krama, kehidupan sosial, agama dan berbagai pengetahuan yang tumbuh dari pengalaman masyarakat.
Karena itu, menurutnya, modernisasi seharusnya tidak membuat masyarakat kehilangan akar budayanya.
Sebaliknya, perkembangan teknologi dan dunia digital dapat dimanfaatkan untuk memperluas ruang publikasi budaya lokal agar dapat dikenal oleh masyarakat yang lebih luas.
Program kepenulisan berbasis budaya lokal juga memperluas peran perpustakaan di Kabupaten Dompu. Perpustakaan tidak hanya diposisikan sebagai tempat masyarakat mencari dan membaca buku, tetapi juga sebagai ruang bertemunya gagasan, pengetahuan dan kreativitas.
Melalui kegiatan seperti Bimtek kepenulisan, masyarakat didorong untuk menghasilkan karya yang dapat menjadi bagian dari dokumentasi pengetahuan daerah.
Dengan cara tersebut, literasi memiliki dimensi yang lebih luas: masyarakat bukan hanya menjadi pembaca, tetapi juga dapat menjadi penulis, pendokumentasi sekaligus penyebar pengetahuan tentang daerahnya sendiri.
Bagi Dompu, karya-karya tersebut dapat menjadi bagian dari kekayaan intelektual dan dokumentasi budaya yang suatu saat dapat dibaca kembali oleh generasi mendatang.
Abduh berharap kegiatan tersebut dapat menjadi momentum untuk menumbuhkan lebih banyak karya yang mengangkat kekayaan budaya Dompu.
“Marilah kita tumbuh kembangkan tata cara kepenulisan berbasis konten budaya lokal ini dalam kehidupan,” ajaknya.
Pesan tersebut sekaligus menjadi gambaran arah pengembangan literasi yang ingin dibangun DPKD Dompu: membaca untuk mengetahui, menulis untuk mendokumentasikan, dan berkarya untuk mewariskan pengetahuan kepada generasi berikutnya.
Di tengah derasnya arus informasi digital, budaya lokal membutuhkan ruang untuk tetap hadir. Salah satu ruang itu adalah tulisan.
Dan ketika perpustakaan mampu menjadi tempat lahirnya karya-karya yang merekam identitas masyarakatnya, maka literasi tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga ikut menjaga ingatan kolektif sebuah daerah. (ADV)
